BAB I
PENDAHULUAN
Berbicara tentang
modal dalam berbisnis, semua orang pasti berpikir bahwa mereka tidak mempunyai
“modal” karena yang mereka maksud dengan modal itu hanyalah sebatas uang atau
investasi dan operasional. Orang selalu berpikir bahwa untuk memulai bisnis
harus ada dana besar agar bisa berhasil. Sebenarnya, modal berupa uang itu
adalah 10% dari semua modal yang dibutuhkan oleh seorang “Smart and good entrepenuer” untuk menjalankan roda bisnisnya. Modal berupa uang
hanya menentukan size usaha atau
bisnis, selebihnya bukan itu. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi modal bagi
seseorang untuk memulai usaha salah satu diantaranya adalah sikap optimis dalam
berbisnis, baik untuk mengembangkan bisnis itu sendiri maupun optimis dalam
menghadapi permasalahan yang timbul.
Bahkan menurut Bapak Dr. Djoko Soetjiptadi, salah satu
dosen Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
mengatakan, 1 kata untuk wirausaha yaitu “Lakukan”. Artinya dalam berbisnis janganlah
menunda-nunda untuk memulainya. Jika sekarang bisa, lantas mengapa
menunggu melakukannya di kemudian hari. Maka dari itu membangun motivasi dalam diri diperlukan agar timbul rasa
optimis dari apa yang kita rencanakan agar hal tersebut bisa terealisasikan
dengan hasil yang memuaskan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Optimisme
Optimisme
memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang
mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Kedua,
optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau
hasil yang lebih bagus. Kalau dipendekkan, optimis berarti kita meyakini adanya
kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus
guna meraih hasil yang lebih bagus.
2.2 Pentingnya Optimisme
Berdasarkan pengertian di atas Optimisme adalah salah
satu jalan utama kita untuk melakukan wirausaha, sebab apabila kita miliki
sifat optimis dalam diri kita maka kita akan berani untuk melakukan wirausaha,
sebab kita akan percaya diri sehingga akan lebih mudah untuk melakukan
wirausaha. Orang dengan
optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan
masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis),
biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih mudah
pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang memperjuangkannya.
2.3 Faktor Kegagalan dan Pencarian Pemecahan
Kegagalan suatu usaha itu
muncul karena berbagai hal tetapi bila dikelompokkan akan terdapat 3 faktor
utama penyebab kegagalan diantaranya:
1.
Disebabkan oleh
diri sendiri
Banyak orang ingin berusaha. Namun, terkadang mereka
berhenti di tengah jalan, atau bahkan mundur sebelum memulainya. Mereka tidak
tahu bagaimana caranya, atau takut mengalami kegagalan, takut jatuh miskin,
takut tertipu, dan sebagainya. Yang pasti ialah bahwa mereka memiliki
“ketakutan” yang besar yang menggelayut di kepala mereka. Menurut Hendro dalam
bukunya, hal tersebutlah yang membedakan antara seorang entrepreneur dengan orang biasa. Seorang entrepreneur adalah seseorang yang mempunyai beberapa karakter yang
dapat dijadikan alat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi diantaranya:
a.
Pandai mengelola
ketakutannya (hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian dan
kepercayaan dirinya dalam menghadapi suatu risiko, salah satu cara adalah
dengan merubah rasa ketakutan tersebut menjadi kekuatan yang positif).
b.
Melawan arus dan
menyukai tantangan baru (seorang smart
and good entrepreneur cenderung tidak suka mengikuti arus atau terperangkap
di dalam kehidupan yang monoton. Dia selalu tidak bisa diam, berpikir dan terus
berpikir).
c.
High determination (mempunyai keteguhan hati yang tinggi)
Keteguhan
hati membuat orang berbeda dalam memandang suatu kegagalan. Bagi seorang entrepreneur kegagalan itu tidak ada,
yang ada hanyalah sebuah rintangan besar, sangat besar, dan juga kecil.
Terkadang kita memvonis diri bahwa kita sudah “gagal”, padahal sebetulnya kita
tidak gagal akan tetapi kita kehilangan langkah selanjutnya, persiapan kita
untuk mengantisipasi risiko tidak sebanding dengan yang terjadi, dan kita
kehabisan “napas” dalam arti bingung atau kekurangan modal. Oleh karena itu,
keteguhan hati dalam berbisnis sangat diperlukan untuk menghadapi segala
persoalan atau rintangan yang terjadi.
2.
Disebabkan oleh
faktor dari luar dan Anda berhenti mencoba
Kegagalan
usaha sering diartikan sebagai kesulitan uang/ modal saja, namun sebenarnya
lebih dari itu. Kegagalan yang sebenarnya adalah berhenti mencoba mengatasi
masalah yang terjadi. Yang perlu diketahui dan ditelaah adalah semua berawal
dari sebuah kelemahan yaitu :
a.
Tidak atau
jarang membuat perecanaan usaha secara tertulis
Ada tips
dari seorang pengusaha bahwa apabila usaha Anda ingin besar dan berharap bisa
menjadi besar lagi, maka rencanakan bisnis Anda. Semakin ke depan rencana yang
dibuat maka akan semakin baik. Jadi, apapun bisnis kita rencanakan dengan baik
dan jelas.
b.
Lokasi tidak
tepat
Lokasi
adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan
sebuah usaha. Seperti layaknya kita mau menanam benih, maka yang muncul dalam
pikiran adalah mencari tanah yang subur agar benih itu dapat tumbuh dengan
cepat. Begitu pula dengan usaha kita.
c.
Tidak melakukan
riset dan analisa pasar
Bisnis yang
tidak melakukan riset berarti bisnis yang asal-asalan atau cenderung nekat
sehingga mudah sekali jatuh karena tidak ada link dengan pasarnya. Bisnis
semacam ini akan sulit berkembang. Oleh karena itu, apabila bisnis kita ingin
berkembang maka riset pasar perlu dilakukan.
d.
Tidak kreatif
dan inovatif
Kesulitan,
hambatan, cobaan, tantangan dan kegagalan akan menjadi makanan sehari-hari.
Jadi apabila ingin tetap bertahan, maka :
a.
Harus kreatif, guna mengatasi masalah yang
ada menjadi sebuah manfaat.
b.
Harus inovatif, agar usaha kita memiliki
cirri khas, keunikan, nilai tambah, perbedaan yang jelas dari pesaing dan juga
akan membuat bisnis kita udah diingat oleh pelanggan.
Oleh karena itu, kreativitas dan sikap inovatif adalah
cara jitu untuk keluar dari tekanan persaingan. Tanpa kreativitas dan inovasi,
suatu bisnis akan mudah jatuh dan cenderung untuk bertarung harga sehingga
menyebabkan tingkat keuntungan akan semakin kecil.
3. Disebabkan oleh bencana alam
Tidak dapat dipungkiri bahwa jaman ini unsur-unsur
ketidakpastian di dalam kehidupan kita semakin besar, termasuk yang berkaitan
dengan alam. Kita tidak dapat memprediksi terjadinya bencana yang datangnya
dari alam. Maka dari itu kembali kepada diri sendiri bagaimana mensiasati
hal-hal tersebut. Ketidaksiapan mental akan berakibat negatif bagi diri,
namun tidak menutup kemungkinan banyak
orang yang bisa bangkit dari keterpurukan dengan cepat tergantung dari motivasi
tiap orang.
2.4 Merubah Pola
Pikir
Menurut
modul kewirausahaan, pola pikir atau mindset
adalah keseluruhan/ kesatuan dari keyakinan yang kita miliki, nilai-nilai
yang kita anut, kriteria, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, dan pendapat
yang kita keluarkan dalam memandang diri kita sendiri, orang lain, atau
kehidupan ini. Dengan demikian, mindset
adalah semacam filter yang kita
bangun untuk menafsirkan apa saja yang kita lihat dan alami. Pola piker memberi
tahu kita bagaimana hidup ini harus dimainkan, yang akhirnya akan menentukan
apakah kita akan berhasil atau tidak. Agar berhasil, kita perlu memahami pola
pikir masing-masing. Kita harus membawanya keluar ke tingkat sadar,
memperhatikannya dengan baik dan melihat apakah ada pikiran-pikiran negatif
yang harus kita buang. Jika tidak, keyakinan negatif yang tersembunyi akan
mengendalikan diri kita. Apabila kita tidak menyukai hasil-hasil yang didapat
selama ini, maka dengan jelas harus merubah pola pikir kita.
Yang
menjadi pertanyaan adalah apakah pola pikir bisa dirubah? Maka jawabannya
adalah bisa. Karena pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran,
maka pola pikir bisa dirubah dan dibentuk ulang. Tentu saja ada pikiran-pikiran
yang mudah dan ada yang sulit untuk dirubah. Ada yang cepat, dan ada yang
memerlukan waktu yang lama. Ada yang bisa dirubah dengan kesadaran sendiri, dan
ada yang baru berubah setelah mengalami peristiwa tertentu. Ada pula yang bisa
dirubah dengan bantuan para ahli seperti psikolog, dan lain-lain.
Untuk
pola pikir seorang entrepreneur
menonjol dalam banyak hal. Dalam masalah konsumsi, seorang entrepreneur berkarakter produktif bukan konsumtif. Seorang entrepreneur juga selalu berusaha
”mencari cara baru” untuk meningkatkan utilitas sumber daya secara efisien. Dia
selalu mencari alternatif bila sumber daya yang ada terbatas. Pola pikir
tersebut bisa ditumbuhkan apabila kita menghargai dan memahami keberlimpahan
maupun keterbatasan yang ada. Contoh, seorang technopreneur yang dibesarkan di daerah tandus, akan tertantang
untuk menciptakan sistem pengairan yang dapat meminimalisasi sifat tandus
tersebut dalam memaksimalkan penggunaan air.
Dengan
pola pikir produktif, semua hambatan akan diubah menjadi peluang untuk
meminimalisasi ancaman, dan semua kekuatan akan menjadi suatu kesempatan untuk
lebih dikembangkan kesempatannya.
BAB III
PENUTUP
Demikian yang
dapat kami tuliskan dalam
makalah yang sederhana ini mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan kelompok kami
mengenai optimisme. tentunya masih banyak kekurangan
dan kelemahan dari kelompok kami
karena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya referensi yang kami dapatkan untuk menyempurnakan materi bahasan
kelompok kami. Kelompok kami banyak berharap kepada Bapak Dr. Djoko Soetjiptadi sebagai dosen
pengampu agar kiranya bisa memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada kami
demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan –
kesempatan berikutnya. Semoga
makalah ini berguna bagi kami
dan juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
Terima kasih.
Daftar Pustaka:
·
Hendro.2011.dasar-dasar kewirausahaan.Jakarta:Erlangga
·
Kasali,rhenald dkk.2010.modul kewirausahaan.Jakarta
Selatan:PT. Mizan Publika
·
Saiman,leonardus.2011.Kewirausahaan, teori, praktik, dan
kasus.Jakarta:Salemba empat
·
ariestwin.wordpress.com/2010/01/.../mengapa-optimisme-diperlukan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar