Senin, 24 Maret 2014

Optimisme Kewirausahaan

BAB I
PENDAHULUAN

Berbicara tentang modal dalam berbisnis, semua orang pasti berpikir bahwa mereka tidak mempunyai “modal” karena yang mereka maksud dengan modal itu hanyalah sebatas uang atau investasi dan operasional. Orang selalu berpikir bahwa untuk memulai bisnis harus ada dana besar agar bisa berhasil. Sebenarnya, modal berupa uang itu adalah 10% dari semua modal yang dibutuhkan oleh seorang “Smart and good entrepenuer” untuk menjalankan roda bisnisnya. Modal berupa uang hanya menentukan size usaha atau bisnis, selebihnya bukan itu. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi modal bagi seseorang untuk memulai usaha salah satu diantaranya adalah sikap optimis dalam berbisnis, baik untuk mengembangkan bisnis itu sendiri maupun optimis dalam menghadapi permasalahan yang timbul.
Bahkan menurut Bapak Dr. Djoko Soetjiptadi, salah satu dosen Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya mengatakan, 1 kata untuk wirausaha yaitu “Lakukan”. Artinya dalam berbisnis janganlah menunda-nunda untuk memulainya. Jika sekarang bisa, lantas mengapa menunggu melakukannya di kemudian hari. Maka dari itu membangun motivasi dalam diri diperlukan agar timbul rasa optimis dari apa yang kita rencanakan agar hal tersebut bisa terealisasikan dengan hasil yang memuaskan.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Optimisme
            Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Kalau dipendekkan, optimis berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus.

2.2 Pentingnya Optimisme
            Berdasarkan pengertian di atas Optimisme adalah salah satu jalan utama kita untuk melakukan wirausaha, sebab apabila kita miliki sifat optimis dalam diri kita maka kita akan berani untuk melakukan wirausaha, sebab kita akan percaya diri sehingga akan lebih mudah untuk melakukan wirausaha. Orang dengan optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang memperjuangkannya.

2.3  Faktor Kegagalan dan Pencarian Pemecahan
Kegagalan suatu usaha itu muncul karena berbagai hal tetapi bila dikelompokkan akan terdapat 3 faktor utama penyebab kegagalan diantaranya:
1.      Disebabkan oleh diri sendiri
Banyak orang ingin berusaha. Namun, terkadang mereka berhenti di tengah jalan, atau bahkan mundur sebelum memulainya. Mereka tidak tahu bagaimana caranya, atau takut mengalami kegagalan, takut jatuh miskin, takut tertipu, dan sebagainya. Yang pasti ialah bahwa mereka memiliki “ketakutan” yang besar yang menggelayut di kepala mereka. Menurut Hendro dalam bukunya, hal tersebutlah yang membedakan antara seorang entrepreneur dengan orang biasa. Seorang entrepreneur adalah seseorang yang mempunyai beberapa karakter yang dapat dijadikan alat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi diantaranya:
a.       Pandai mengelola ketakutannya (hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian dan kepercayaan dirinya dalam menghadapi suatu risiko, salah satu cara adalah dengan merubah rasa ketakutan tersebut menjadi kekuatan yang positif).
b.      Melawan arus dan menyukai tantangan baru (seorang smart and good entrepreneur cenderung tidak suka mengikuti arus atau terperangkap di dalam kehidupan yang monoton. Dia selalu tidak bisa diam, berpikir dan terus berpikir).
c.       High determination (mempunyai keteguhan hati yang tinggi)
Keteguhan hati membuat orang berbeda dalam memandang suatu kegagalan. Bagi seorang entrepreneur kegagalan itu tidak ada, yang ada hanyalah sebuah rintangan besar, sangat besar, dan juga kecil. Terkadang kita memvonis diri bahwa kita sudah “gagal”, padahal sebetulnya kita tidak gagal akan tetapi kita kehilangan langkah selanjutnya, persiapan kita untuk mengantisipasi risiko tidak sebanding dengan yang terjadi, dan kita kehabisan “napas” dalam arti bingung atau kekurangan modal. Oleh karena itu, keteguhan hati dalam berbisnis sangat diperlukan untuk menghadapi segala persoalan atau rintangan yang terjadi.

2.      Disebabkan oleh faktor dari luar dan Anda berhenti mencoba
Kegagalan usaha sering diartikan sebagai kesulitan uang/ modal saja, namun sebenarnya lebih dari itu. Kegagalan yang sebenarnya adalah berhenti mencoba mengatasi masalah yang terjadi. Yang perlu diketahui dan ditelaah adalah semua berawal dari sebuah kelemahan yaitu :
a.         Tidak atau jarang membuat perecanaan usaha secara tertulis
Ada tips dari seorang pengusaha bahwa apabila usaha Anda ingin besar dan berharap bisa menjadi besar lagi, maka rencanakan bisnis Anda. Semakin ke depan rencana yang dibuat maka akan semakin baik. Jadi, apapun bisnis kita rencanakan dengan baik dan jelas.



b.        Lokasi tidak tepat
Lokasi adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan sebuah usaha. Seperti layaknya kita mau menanam benih, maka yang muncul dalam pikiran adalah mencari tanah yang subur agar benih itu dapat tumbuh dengan cepat. Begitu pula dengan usaha kita.
c.         Tidak melakukan riset dan analisa pasar
Bisnis yang tidak melakukan riset berarti bisnis yang asal-asalan atau cenderung nekat sehingga mudah sekali jatuh karena tidak ada link dengan pasarnya. Bisnis semacam ini akan sulit berkembang. Oleh karena itu, apabila bisnis kita ingin berkembang maka riset pasar perlu dilakukan.
d.        Tidak kreatif dan inovatif
Kesulitan, hambatan, cobaan, tantangan dan kegagalan akan menjadi makanan sehari-hari. Jadi apabila ingin tetap bertahan, maka :
a.       Harus kreatif, guna mengatasi masalah yang ada menjadi sebuah manfaat.
b.      Harus inovatif, agar usaha kita memiliki cirri khas, keunikan, nilai tambah, perbedaan yang jelas dari pesaing dan juga akan membuat bisnis kita udah diingat oleh pelanggan.
Oleh karena itu, kreativitas dan sikap inovatif adalah cara jitu untuk keluar dari tekanan persaingan. Tanpa kreativitas dan inovasi, suatu bisnis akan mudah jatuh dan cenderung untuk bertarung harga sehingga menyebabkan tingkat keuntungan akan semakin kecil.

3.      Disebabkan oleh bencana alam
Tidak dapat dipungkiri bahwa jaman ini unsur-unsur ketidakpastian di dalam kehidupan kita semakin besar, termasuk yang berkaitan dengan alam. Kita tidak dapat memprediksi terjadinya bencana yang datangnya dari alam. Maka dari itu kembali kepada diri sendiri bagaimana mensiasati hal-hal tersebut. Ketidaksiapan mental akan berakibat negatif bagi diri, namun  tidak menutup kemungkinan banyak orang yang bisa bangkit dari keterpurukan dengan cepat tergantung dari motivasi tiap orang.



2.4  Merubah Pola Pikir

Menurut modul kewirausahaan, pola pikir atau mindset adalah keseluruhan/ kesatuan dari keyakinan yang kita miliki, nilai-nilai yang kita anut, kriteria, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, dan pendapat yang kita keluarkan dalam memandang diri kita sendiri, orang lain, atau kehidupan ini. Dengan demikian, mindset adalah semacam filter yang kita bangun untuk menafsirkan apa saja yang kita lihat dan alami. Pola piker memberi tahu kita bagaimana hidup ini harus dimainkan, yang akhirnya akan menentukan apakah kita akan berhasil atau tidak. Agar berhasil, kita perlu memahami pola pikir masing-masing. Kita harus membawanya keluar ke tingkat sadar, memperhatikannya dengan baik dan melihat apakah ada pikiran-pikiran negatif yang harus kita buang. Jika tidak, keyakinan negatif yang tersembunyi akan mengendalikan diri kita. Apabila kita tidak menyukai hasil-hasil yang didapat selama ini, maka dengan jelas harus merubah pola pikir kita.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pola pikir bisa dirubah? Maka jawabannya adalah bisa. Karena pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran, maka pola pikir bisa dirubah dan dibentuk ulang. Tentu saja ada pikiran-pikiran yang mudah dan ada yang sulit untuk dirubah. Ada yang cepat, dan ada yang memerlukan waktu yang lama. Ada yang bisa dirubah dengan kesadaran sendiri, dan ada yang baru berubah setelah mengalami peristiwa tertentu. Ada pula yang bisa dirubah dengan bantuan para ahli seperti psikolog, dan lain-lain.
Untuk pola pikir seorang entrepreneur menonjol dalam banyak hal. Dalam masalah konsumsi, seorang entrepreneur berkarakter produktif bukan konsumtif. Seorang entrepreneur juga selalu berusaha ”mencari cara baru” untuk meningkatkan utilitas sumber daya secara efisien. Dia selalu mencari alternatif bila sumber daya yang ada terbatas. Pola pikir tersebut bisa ditumbuhkan apabila kita menghargai dan memahami keberlimpahan maupun keterbatasan yang ada. Contoh, seorang technopreneur yang dibesarkan di daerah tandus, akan tertantang untuk menciptakan sistem pengairan yang dapat meminimalisasi sifat tandus tersebut dalam memaksimalkan penggunaan air.
Dengan pola pikir produktif, semua hambatan akan diubah menjadi peluang untuk meminimalisasi ancaman, dan semua kekuatan akan menjadi suatu kesempatan untuk lebih dikembangkan kesempatannya.

BAB III
PENUTUP

Demikian yang dapat kami tuliskan dalam makalah yang sederhana ini mengenai materi yang menjadi pokok bahasan kelompok kami mengenai optimisme. tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan dari kelompok kami karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya referensi yang kami dapatkan untuk menyempurnakan materi bahasan kelompok kami. Kelompok kami banyak berharap kepada Bapak Dr. Djoko Soetjiptadi sebagai dosen pengampu agar kiranya bisa memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi kami dan juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
            Terima kasih.



















Daftar Pustaka:

·        Hendro.2011.dasar-dasar kewirausahaan.Jakarta:Erlangga
·        Kasali,rhenald dkk.2010.modul kewirausahaan.Jakarta Selatan:PT. Mizan Publika
·        Saiman,leonardus.2011.Kewirausahaan, teori, praktik, dan kasus.Jakarta:Salemba empat

·       ariestwin.wordpress.com/2010/01/.../mengapa-optimisme-diperlukan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll