BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Kewirausahaan
atau “entrepreneurship” makin dirasakan urgensinya saat ini
sebagai “the backbone of economy”, atau tulang punggung perekonomian
suatu bangsa. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa sebagian besar pendorong
perubahan, inovasi dan kemajuan suatu negara adalah para wirausahawan. Tanpa
adanya mental kewirausahaan pada diri seseorang atau suatu bangsa, maka segala
potensi, sumber energi, komoditi dan mineral yang melimpah tidak dapat
dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.
Di Indonesia, jumlah pelaku wirausaha saat ini masih
relatif minim. Dari populasi yang mencapai sekitar 240 juta penduduk, porsi
pelaku wirausaha hanya sekitar 0,2%, sedangkan jumlah wirausaha yang ideal
untuk menggerakkan perekonomian suatu negara itu minimal 2% dari total jumlah
penduduk. Sementara itu, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi fakta tak
terbantahkan yang masih melingkupi sebagian besar rakyat Indonesia.
Dalam isu kewirausahaan golongan pemuda perlu
memperoleh perhatian khusus. Selain sebagai nafas zaman, kaum mudalah yang
senatiasa menjadi incaran pemasaran sebagai segmen pasar potensial. Posisi
pemuda juga strategis dan khas secara budaya dan kondisi fisik serta emosional.
Para pemudalah juga yang nanti mengalami persoalan besar sebagai pembayar
hutang bangsa, menghadapi persaingan global, serta paradigma kehidupan baru. .
Sayangnya,
pilihan menjadi wirausaha ini belum begitu banyak tumbuh di kalangan generasi
muda. Membludaknya pendaftar CPNS, mental menjadi selebritis dadakan atau
politisi karbitan menunjukkan masih rendahnya karakter mental kewirausahaan
pemuda kita. Tampak masih sangat kuat mental mengharapkan output pendidikan
sebagai pekerja dalam diri generasi muda karena menganggap pegawai negeri
memiliki status sosial yang cukup tinggi dan disegani.
Membangun
karakter mental kewirausahaan pemuda memang tidaklah mudah. Selain kesadaran
pemuda, dukungan keluarga, lingkungan yang kondusif serta peran pemerintah dan
pihak lainnya sangat dibutuhkan. Hal ini karena entrepreneurship sesungguhnya
tak sebatas profesi, namun lebih berkaitan dengan mindset dan mental seseorang
yang dibutuhkan di beragam bidang kehidupan.
Entrepreneurship
membutuhkan kemampuan mengolah kesempatan, tantangan, dan resiko dalam tindakan
nyata. Entrepreneurship butuh proses yang akan lahir seiring dengan pengalaman,
eksperimen, informasi berbagai sumber, dan tidak sebatas pada pendidikan di
sekolah. Seorang entrepreneurship membutuhkan mental dan semangat yang tinggi
karena dihadapkan pada ketidakpastian. Mereka yang berhasil sebagai entrepreneurship
adalah mereka yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi kemungkinan dan
mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
bab ii
pembahasan
2.1. Falsafah Wirausaha
2.1.1 Pengertian Dan Falsafah
Wirausaha
Istilah kewirausahaan berasal dari kata
wirausaha. Kata wirausaha merupakan gabungan dua kata yang menjadi satu yaitu
kata wira dan usaha. Wira artinya
pahlawan, laki-laki, sifat jantan, perwira. Usaha artinya
kegiatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu
maksud. Usaha juga berarti pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya)
untuk mencapai sesuatu. Usaha dibidang perdagangan (dengan maksud mencari
keuntungan) berarti perdagangan, perusahaan. Dalam bahasa Inggris istilah
wirausaha dikenal dengan istilah entrepreneur. Dengan kata lain wirausaha
(entrepreneur) atau wirausahawan adalah sesorang yang berjiwa dagang, dan
melakukan kegiatan dibidang usaha bisnis sebagai profesinya.
2.1.2. Falsafah wirausaha
Keberhasilan seorang
wirausaha tergantung pada kesediaan diri untuk bertanggung jawab. Sebagai bagian dari kekhasan wirausaha,
berikut ini dikemukakan falsafah dari profil falsafah wirausaha yaitu :
·
Untuk mencapai tujuan yang
diinginkan dalam hidup harus banyak belajar tentang dirinya sendiri.
·
Kegagalan usaha harus
diterma sebagai pengalaman.
·
Kekuatan berusaha
datangnya dari tindakannya sendiri bukan dari tindakan orang lain.
·
Risiko kegagalan selalu
ada, tapi para wirausahawan harus menerimanya dan bertanggung jawab.
·
Adanya keberhasilan
berusaha, setelah mengalami kegagalan.
·
Wirausahawan yang
menghindari risiko rendah tidak ada tantangan dan menjauhi risiko tinggi karena ingin
berhasil.
·
Harta terbesar untuk mempertahankan
kemampuan wirausahawan adalah adanya sikap positif.
·
Prestasi total sebuah
bisnis, terutama ditentukan oleh sikap dan tindakan wirausahawan.
·
Kejarlah tujuan-tujuan
yang berhubungan dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya.
· Terimalah apa adanya dan kurangilah kelemahan-kelamahan diri sendiri.
2.2 Wirausaha
Sebagai Pribadi
Setiap orang adalah individu yang unik ,tidak ada duanya,semua orang
mempunyai pengalaman masa lampau yang berbeda,hidup dalam situasi kehidupan
yang berlainan, mempunyai ikatan dan tanggung jawab yang berlainan dan
mempunyai tujuan tujuan hidup yang berlainan.
Terdapat dua kata kunci yaitu kreativitas (creativity) dan keberanian menghadapi resiko (taking risk). Jadi kalau kita masukkan ke dalam pendidikan secara sederhana kita dapatkan bahwa pendidikan kewirausahaan harus dapat menjadikan seseorang itu berjiwa kreatif dan berani menghadapi resiko.
Terdapat dua kata kunci yaitu kreativitas (creativity) dan keberanian menghadapi resiko (taking risk). Jadi kalau kita masukkan ke dalam pendidikan secara sederhana kita dapatkan bahwa pendidikan kewirausahaan harus dapat menjadikan seseorang itu berjiwa kreatif dan berani menghadapi resiko.
2.2.1 Ciri-ciri Jiwa Wirausaha
1.
Percaya diri (Self Confident)
Kepercayaan
diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi
tugas atau pekerjaan. Dalam praktik, sikap dan kepercayaan ini merupakan sikap
dan keyakinan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan suatu tugas atau
pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab itu kepercayaan diri memiliki nilai
keyakinan, optimisme, individualitas, dan ketidaktergantungan. Seseorang yang
memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk
mencapai keberhasilan
2.
Berorientasi pada tugas dan hasil
Seseorang yang
selalu mengutamakan tugas dan hasil, adalah orang yang selalu mengutamakan
nilai‑nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan,
Berinisiatif artinya selalu ingin
mencari dan memulai. Untuk memulai diperlukan niat dan tekad yang kuat, serta
karsa yang besar. Sekali sukses atau berprestasi, maka sukses berikutnya akan
menyusul, sehingga usahanya semakin maju dan semakin berkembang.
3.
Keberanian mengambil resiko
Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko
merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau
mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Wirausaha
adalah orang yang lebih menyukai usaha‑usaha yang lebih menantang untuk
mencapai kesuksesan
Dengan
demikian, keberanian untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan
adalah pengambilan risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistik. Kepuasan
yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas‑tugasnya secara
realistik. Artinya, wirausaha menyukai tantangan yang sukar namun dapat dicapai.
Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan,
dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil.
4.
Kepemimpinan
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki
sifat kepernimpinan, kepeloporan, keteladanan. la selalu ingin tampil berbeda
lebih dulu lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan
keinovasiannya, ia selalu menampilkan barang dan jasa‑jasa yang dihasilkannya
dengan lebih cepat, lebih dulu dan segera berada di pasar.
5.
Berorientasi ke masa depan
Orang yang berorientasi ke masa depan adalah
orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena ia memiliki
pandangan yang jauh ke masa depan, maka selalu berusaha untuk berkarsa dan
berkarya. Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda dengan yang sudah ada sekarang. Meskipun dengan risiko yang mungkin
terjadi, ia tetap tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaharuan
masa depan.
Pandangan yang
jauh ke depan, membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang
sudah ada sekarang. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya dengan mencari
suatu peluang.
6.
Kreatif inovatif
Kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru (thinking
new things) dan keinovasian adalah melakukan sesuatu yang baru (doing
new things). Kreatifitas diartikan
sebagai kemampuan mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru
dalam memecahkan persoalan dan mencari peluang. Keinovasian diartikan
sebagai kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan
persoalan-persoalan dan peluang untuk mempertinggi dan meningkatkan taraf
hidup.
Oleh karena
itu, kewirausahaan adalah "thinking and doing new things or old thinks
in new ways" Kewirausahaan adalah berpikir dan bertindak sesuatu yang
baru atau berpikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru.
7.
Memiliki tenaga dalam
Memiliki tenaga
dalam artinya bahwa seorang wirausaha harus memiliki :
1.
Keuletan,
2.
Ketabahan,
3.
Ketekunan,
4.
Kejujuran
5.
Kedisiplinan
6.
Ketulusan
7.
Keikhlasan
8.
Kesopanan, keramahan dll.
2.2.2 Ciri
dan Watak Wirausaha
Ciri
Watak :
1.
Percaya diri Keyakinan, ketidaktergantungan,
individualistis,dan optimisme
2.
Berorientasi
pada tugas
dan hasil. Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan
dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai
dorongan kuat, energetik dan inisiatif
3.
Pengambilan resiko Kemampuan untuk mengambil
resiko yang wajar dan suka tantangan
4.
Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin,
bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
5.
Keorisinilan Inovatif dan kreatif serta
fleksibel
6.
Berorientasi ke masa depan.
2.3 Sikap
Positif
2.3.1 Pentingnya Sikap Positif
Sikap mental positif memudahkan anda unuk memfokus pada kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian atas hasil-hasil yang ingin anda capai.
Faktor-faktor yang berguna bagi wirausaha dalam mengembangkan sikap mental yang positif:
1. Pusatkan perhatian anda
2. Pilihlah sasaran positif dalam pekerjaan anda.
3. Bergaulah dengan orang-orang yang berfikir dan bertindak secara wirausaha
4. Percaya diri anda dan bakat -bakat anda
5. Lingkungan anda akan mempengaruhi prestasi anda
6. Hilangkan beban dengan mengambil tindakan
Sikap mental positif memudahkan anda unuk memfokus pada kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian atas hasil-hasil yang ingin anda capai.
Faktor-faktor yang berguna bagi wirausaha dalam mengembangkan sikap mental yang positif:
1. Pusatkan perhatian anda
2. Pilihlah sasaran positif dalam pekerjaan anda.
3. Bergaulah dengan orang-orang yang berfikir dan bertindak secara wirausaha
4. Percaya diri anda dan bakat -bakat anda
5. Lingkungan anda akan mempengaruhi prestasi anda
6. Hilangkan beban dengan mengambil tindakan
2.3.2 Perilaku
Wirausahawaan
Dari berbagai sumber yang
membicarakan tentang perilaku wirausaha yang berhasil. Imam Santoso Sukardi (1991) secara umum menetapkan sembilan
perilaku wirausaha sebagaimana tertera di bawah ini.
1.
Perilaku Instrumental
Wirausaha selalu memanfaatkan segala sesuatu yang ada
dilingkungannya untuk membantu dirinya mencapai tujuannya dalam berusaha. Dia
selalu mencari segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki
kerjanya. Dengan kata lain segala
sesuatu yang ada dilingkungannya dipandang sebagai “instrument” (alat)
pencapaian tujuan pribadi.
2.
Perilaku Prestatif
Perilaku prestatif menunjukkan bahwa wirausaha dalam berbagai
situasi selalu tampil lebih baik, lebih efektif dibandingkan dengan hasil yang
dicapai sebelumnya. Tidak puas dengan hasil yang dicapai sekarang dan selalu
membuat sasaran yang lebih baik dan lebih tinggi dari sebelumnya. Bagian yang
penting adalah tahapan dan proses pencapaian prestasi itu
sendiri, sedangkan keberhasilan atau kegagalan pencapaian prestasi dianggap
sebagai balikan (feedback).
3.
Perilaku keluwesan bergaul
Wirausaha akan selalu berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dalam
berbagai situasi hubungan antar manusia. Dia selalu aktif bergaul, selain
menampilkan wajah ramah, akomodatif terhadap berbagai ajakan untuk berdialog.
Pengendalian emosinya baik terutama bila situasi pergaulan tidak mengena dengan
situasi hatinya.
4.
Perilaku kerja keras
Wirausaha selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah menyerah
sebelum pekerjaan selesai. Dia mengutamakan kerja dan mengisi waktu yang ada
dengan perbuatan nyata untuk mencapai tujuan.
5.
Perilaku keyakinan diri
Wirausaha selalu percaya pada kemampuan diri, tidak ragu-ragu dalam
bertindak bahkan kecenderungannya dia akan melibatkan diri secara langsung
dalam berbagai situasi dan ada semacam optimisme dalam kegiatannya. Optimisme
berarti ada keyakinan bahwa tindakannya akan membawa keberhasilan.
6.
Perilaku pengambilan resiko
Dengan keberanian mengambil risiko yang diperhitungkan wairausaha
tidak takut menghadapi situasi yang tidak menentu dimana tidak ada jaminan
untuk keberhasilan. Segala tindakannya diperhitungkan dengan cermat, selalu
mencoba membuat antisipasi adanya hambatan-hambatan yang dapat menggagalkan
usahanya.
7.
Perilaku swa kendali (personal control)
Personal control merujuk pada pribadi wirausaha yang memutuskan
kapan dia harus bekerja lebih keras, kapan dia harus meminta bantuan pada orang
lain, dan kapan dia harus merubah strategi dalam bekerja, dalam menghadapi
hambatan. Personal control mencakup pengertian swa-daya dan swa-kendali.
8.
Perilaku Inovatif
Seorang wirausaha selalu berpandangan ke depan untuk mencari
cara-cara baru untuk memperbaiki cara-cara yang biasa dilakukan orang lain
untuk peningkatan kerja. Cenderung untuk melakukan sesuatu dengan cara yang
khas, unik dari hasil pemikirannya. Termasuk dalam perilaku inovatif ini adalah
kecenderungan untuk selalu meniru tetapi melalui penyempurnaan-penyempurnaan
tertentu (imitative innovative).
9.
Perilaku Kemandirian
Perilaku kemandirian menunjukkan bahwa wirauasaha selalu
mengembalikan perbuatannya sebagai tanggung jawab pribadi. Dia mementingkan
otonomi dalam bertindak, pengambilan keputusan dan pemilihan berbagai kegiatan
dalam mencapai tujuan. Ketergantungan pada orang lain merupakan sesuatu yang
bertentangan dengan kata hatinya. Dia lebih senang bekerja sendiri, menentukan
dan memilih cara kerja yang sesuai dengan dirinya. Dia dapat saja bekerja dalam
kelompok selama mendapat kebebasan bertindak pengambilan keputusan, ini berarti
dia lebih senang memegang kendali kelompok kerja, menentukan tujuan kelompok
serta memilih alternative perilaku.
Apabila
masyarakat dengan sikap mental kewirausahaan telah terbentuk, maka setiap orang
minimal akan dapat menghidupi dirinya dan keluarganya, kemudian msayarakat
sekitarnya dan pada akhirnya menolong bangsa dan umat manusia. Untuk itulah sikap mental wirausaha diperlukan untuk dapat
menghadapi tantangan dunia yang semakin penuh persaingan. Agar
menjadi wirausahawan yang berhasil diperlukan suatu tekad yang kuat dan mampu
membaca peluang pasar. Kita bisa belajar dari tokoh wirausahawan yang sukses
dibidangnya seperti Bill Gates, Henry Ford, Ducan Symne, Sosro, Tirto Utomo dan
lain-lain. Pada awalnya mereka adalah
wirausahawan kecil yang kemudian berhasil dalam usahanya berkat kemampuannya
memilih dan mengelola bidang usaha yang digelutinya. Keberhasilan itu dapat diraih karena karakteristik wirausaha yang
melekat pada dirinya.
2.4 Sikap
Mental
Sikap Mental kewirausahaan
yang harus dimiliki yaitu :
1.
Percaya diri (self confidence)
Merupakan paduan
sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas
atau pekerjaan,
yang bersifat internal, sangat relatif dan dinamis dan banyak
ditentukan oleh
kemampuannya untuk memulai, melaksanakan dan
menyelesaikan
suatu pekerjaan. Kepercayaan diri akan mempengaruhi
gagasan, karsa,
inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja,
kegairahan
berkarya. Kunci keberhasilan dalam bisnis adaalh untuk
memahami diri
sendiri. Oleh karena itu wirausaha yang sukses adalah
wirausaha yang
mandiri dan percaya diri.
2.
Berorientasi tugas dan hasil
Seseorang yang
selalu mengutamakan tugas dan hasil, adalah orang yang
selalu
mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba,
ketekunan dan
kerja keras. Dalam kewirausahaan peluang hanya diperoleh
apabila ada
inisiatif. Perilaku inisiatif biasanya diperoleh melalui pelatihan
dan pengalaman
bertahun-tahun dan pengembangannya diperoleh dengan cara
disiplin diri,
berpikir kritis, tanggap, bergairah dan semangat berprestasi.
3.
Keberanian mengambil risiko
Wirausaha adalah
orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih
menantang untuk
mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang
kurang
menantang. Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena
tidak ada
tantangan dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin
berhasil. Pada
situasi ini ada dua alternatif yang harus dipilih yaitu alternatif
yang mengangung
risiko dan alternatif yang konservatif . Pilihan terhadap
risiko
tergantung pada :
a. Daya tarik
setiap alternatif
b. Kesediaan
untuk rugi
c. Kemungkinan
relatif untuk sukses atau gagal
Selanjutnya
kemampuan untuk mengambil risiko tergantung dari :
a. Keyakinan
pada diri sendiri
b. Kesediaan
untuk menggunakan kemampuan dalam mencari peluang dan
kemungkinan
untuk memperoleh keuntungan
c. Kemampuan
untuk menilai situasi risiko secara realitis
4.
Kempemimpinan
Seorang
wirausaha harus memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan,
keteladanan. Ia
selalu menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda
sehingga ia
menjadi pelopor baik dalam proses produksi maupun
pemasaran. Dan
selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah
nilai.
5.
Berorientasi ke masa depan
Wirausaha harus
memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan, kuncinya
adalah dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang ada sekarang.
6.
Keorisinilan : Kreativitas dan Inovasi
Wirausaha yang
inovatif adalah orang yang memiliki ciri-ciri :
a. Tidak pernah
puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, meskipun
cara tersebut
cukup baik
b. Selalu
menuangkan imajinasi dalaam pekerjaannya
c. Selalu ingin tampil
berbeda atau selalu memanfaatkan perbedaan
2.5 Kebiasaan
Jika kita memilih untuk menjadi entrepreneur yang sukses,
hal pertama yang perlu kita miliki adalah keyakinan dan keberanian untuk
memulai langkah pertama kita, keluar dari zona kenyamanan kita dan mulai
mengubah diri (transformasi) melalui serangkaian kebiasaan-kebiasaan baru
menjadi seorang entrepreneur. Karena kita tidak bisa mengharapkan
hasil yang berbeda dengan melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang. Untuk
menjadi entrepreneur sukses kita harus berubah. Kita harus memiliki keberanian
untuk mengambil langkah pertama dan senantiasa fokus kepada impian kita. Untuk
berubah menjadi seorang entrepreneur yang sukses, ada beberapa kebiasaan yang perlu kita lakukan
dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu:
Kebiasaan #1 : Find Your Purpose and Dream All the Time
Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Setiap saat kita mencapai target, goal atau impian kita, maka segeralah membuat impian-impian baru yang dapat memacu kita dan memberi semangat serta antusiasme untuk mencapainya. Biasakanlah untuk memiliki target, baik harian, bulanan maupun tahunan. Apakah itu berupa peningkatan omset usaha, tingkat keuntungan, mobil idaman, rumah baru, kantor baru, dan sebagainya. Apa pun impian atau target kita, ingat kata kunci SMART (specific, measurable, achieveable, Reality-based, Time frame): harus spesifik dan jelas, terukur, dapat dicapai berdasarkan realitas atau kondisi kitasaat ini dan memiliki jangka waktu tertentu.
Kebiasaan #1 : Find Your Purpose and Dream All the Time
Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Setiap saat kita mencapai target, goal atau impian kita, maka segeralah membuat impian-impian baru yang dapat memacu kita dan memberi semangat serta antusiasme untuk mencapainya. Biasakanlah untuk memiliki target, baik harian, bulanan maupun tahunan. Apakah itu berupa peningkatan omset usaha, tingkat keuntungan, mobil idaman, rumah baru, kantor baru, dan sebagainya. Apa pun impian atau target kita, ingat kata kunci SMART (specific, measurable, achieveable, Reality-based, Time frame): harus spesifik dan jelas, terukur, dapat dicapai berdasarkan realitas atau kondisi kitasaat ini dan memiliki jangka waktu tertentu.
Kebiasaan #2: Never-ending Innovation
Kebiasaan kedua adalah inovasi tiada henti. Seorang entrepreneur harus segera
menerjemahkan impian-impiannya menjadi inovasi untuk pengembangan bisnisnya.
Jika impian dan tujuan hidup kita merupakan fondasi bangunan bisnis kita,
inovasi dapat diibaratkan pilar-pilar yang menunjang kokohnya bisnis kita. Impian
saja tidak cukup. Impian harus senantiasa ditunjang oleh inovasi yang tiada
henti sehingga bangunan bisnis kita menjadi kokoh dalam badai kesulitan dan
tantangan. Setiap fondasi baru yang kita buat, harus diikuti oleh pilar-pilar
bangunan sebagai kerangka bangunan keseluruhan. Setiap impian harus diikuti
dengan inovasi sebagai kerangka pengembangan, kemudian barulah diikuti dengan
product management, customer management, cashflow management, systems, dan
sebagainya. Inovasi adalah kreativitas yang diterjemahkan menjadi sesuatu yang
dapat diimplementasikan dan memberikan nilai tambah atas sumber daya yang kita
miliki.
Kebiasaan #3: Learn – Change and Grow
Kebiasaan ketiga yang sangat
penting bagi seorang entrepreneur adalah senantiasa belajar, belajar dan
belajar. Makna lain dari pernyataan ini adalah bahwa apa pun yang terjadi dalam
kehidupan kita adalah bagian dari sebuah proses alami untuk membantu kita dalam
belajar, berubah dan bertumbuh ke arah yang lebih baik. Manakala seorang
entrepreneur berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri, saat itulah berarti
dia mengambil keputusan untuk berhenti menjadi seorang entrepreneur. Belajar
bagi seorang entrepreneur sejati adalah proses yang dilakukan seumur hidup,
seperti halnya perubahan itu senantiasa terjadi sepanjang perjalanan hidupnya.
Kebiasaan #4: Accumulate Your Assets
Tujuan akhir menjadi seorang
entrepreneur bukanlah menjadi business owner maupun investor. Tujuan akhirnya
adalah mencapai kebebasan finansial serta dapat meraih impian-impian kita.
Ingat bahwa entrepreneur bukanlah profesi ataupun pekerjaan. Seorang pemilik
sebuah usaha yang sibuk bekerja untuk perusahaan miliknya belumlah menjadi
seorang entrepreneur sejati (true entrepreneur). Ketika dia belum mampu
meninggalkan pekerjaan tersebut dan bebas menggunakan waktu dan uang yang
dimilikinya untuk mencapai impian atau menjalani kehidupan yang luar biasa
(great life). Satu-satunya cara mencapai kebebasan finansial adalah dengan
memiliki kebiasaan untuk mengakumulasikan atau menambah aset bagus kita di
balance sheet sehingga menambah pemasukan ke dalam income statement kita. Cara
yang paling mudah bagi kita untuk mulai memiliki kebiasaan ini adalah dengan
menabung. Karena yang penting bukan berapa jumlah yang kita tabung, melainkan
kesadaran bahwa setiap bulan kita menjadi lebih kaya. Balance
sheet pribadi maupun usaha yang kita miliki harus senantiasa menunjukkan
penambahan aset kita. Inilah satu-satunya indikator bahwa kita telah
mengakumulasi kapital yang kita miliki.
Kebiasaan #5:
Use Leverage Concept to Build Your Business
Seorang entrepreneur yang cerdas harus mampu menggunakan tenaga dan
waktu orang lain untuk mencapai impiannya. Contoh yang menarik adalah konsep pemasaran dengan sistem
jaringan (network marketing). Bayangkan
bahwa kita rata-rata bekerja 8 jam seminggu. Jika waktu produktif kita adalah
40 tahun, maka seumur hidup kita memiliki 80.000 jam kerja. Jika dalam jaringan
kerja kita memiliki 1.000 anggota yang rata-rata bekerja satu jam sehari untuk
bisnis network marketing kita, maka kita bisa menggantikan produktivitas seumur
hidup kita hanya dalam 80 hari!!! Inilah kekuatan konsep leverage.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
§
Untuk menjadi entrepreneur yang sukses, hal pertama
yang perlu kita miliki adalah keyakinan dan keberanian untuk memulai langkah
pertama kita, keluar yaitu mulai mengubah diri (transformasi) melalui
serangkaian kebiasaan-kebiasaan baru menjadi seorang entrepreneur, mulai
menanamkan dan memiliki sikap mental sebagai seorang wirausaha.
§ Kita harus senantiasa fokus kepada impian kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar