Senin, 30 Juni 2014

Demokrasi Negeri Kita

Para penghayat demokrasi di Indonesia,disaat-saat sunyi menjelang tidur,sering tertawa-tawa sendiri. Tingkat kepelikan proses demokratisasi pada kehidupan bangsanya sudah melampui puncak kepusingan ilmiah dan kegetiran nurani,sehingga tahap yang terjadi kemudian adalah perlunya kesanggupan untuk mengomedikannya agar jiwa tetap plastis,pikiran kembali dan tenaga tidak berputus asa.

Para Pejuang demokrasi di negeri ini air matanya habis terkuras oleh tangis dan tertawa geli berkepanjangan. Mereka berdomisili di rumah hantu yang lorong lorongnya gelap,berliku liku dan hampir selalu buntu ujungnya. Kalaupun tak  buntu,mereka kaget karena langkahnya ternyata tiba kembali di tempat yang itu itu juga.

Proses demokratisasi ini jalannya licin. Maka hati hatilah,jangan sampai terpeleset. Kalau sekedar terpeleset sedikit dan lumpur mengotori celana dan bajumu dengan tulisan " pembangkang",dissident","wts"(waton suloyo),"layak cekal", tau apalagi sekedar "orang cemburu sosial", masih lumayan. Tapi kalau karena terpeleset sampai kaki politikmu terserimpug,tangan ekonomimu terkilir,atau bahkan kepala sejarahmu gegar otak,celakalah engkau. Mungkin itulah sebabnya banyak orang menunggu pensiun dulu untuk memperjuangkan demokrasi.

Para penghayat dan pejuang demokrasi di negeri ini tak sekadar harus berkepribadian tahan banting,berwatak ayam kampung yang merdeka dan eksploratif,serta memiliki plastisitas kesaktian yang memungkinkan tetap tegar sesudah terjepit,tertindih dan tercampak. Mereka harus memperhitungkan momentum sejarah yang tepat, dengan melontarkan isu demokrasi untuk suatu "zikir zaman". Agar makin banyak orang mengingat ingat demokrasi. Agar alam pikiran demokrasi menjadi bagian dari iklim

Para penghayat dan pejuang demokrasi,dengan segala kekurangan dan keterjebakannya sendiri oleh ekspresi yang mungkin justru tidak demokratis, selallu dibutuhkan oleh setiap cita cita peradapan yang sehat dan dewasa. Penghayatan dan perjuangan demokrasi dilarang oleh Tuhan untuk di stop,karena hanya dengan melalui "terminal" demokrasi sebuah bangsa bisa melanjutkan perjalannya menuju nilai kebenaran yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll